JAKARTAHYPE.COM - Perdagangan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada hari Kamis, 4 Juni 2026, ditutup dengan catatan penurunan signifikan. Saham perbankan raksasa tersebut terkoreksi sebesar 1,81%, mengakhiri sesi di harga Rp 5.425 per lembar.

Penurunan harga ini terjadi di tengah gelombang aksi jual yang dilepaskan oleh investor asing di pasar modal Indonesia. Aksi jual asing ini menjadi pendorong utama pelemahan harga saham BBCA pada penutupan hari itu.

Secara agregat, tercatat sebanyak 550,06 juta lembar saham BBCA berpindah tangan sepanjang hari perdagangan. Volume transaksi yang besar ini menunjukkan minat jual yang cukup tinggi dari para pelaku pasar.

Aktivitas perdagangan saham BBCA pada hari tersebut juga tercatat mencapai frekuensi transaksi sebanyak 82.292 kali. Total nilai transaksi saham BBCA mencapai angka fantastis, yakni Rp 2,96 triliun.

Fokus utama pelemahan ini tertuju pada pergerakan dana asing, di mana investor internasional tercatat membukukan net sell atau penjualan bersih senilai Rp 463,67 miliar pada saham Bank Central Asia. Angka ini menegaskan dominasi sentimen jual dari investor asing.

Menariknya, pelemahan harga ini membawa valuasi saham BBCA menjadi lebih menarik dibandingkan periode sebelumnya. Berdasarkan data yang dihimpun dari aplikasi Stockbit Sekuritas, rasio price to book value (PBV) BBCA tercatat berada di angka 2,58 kali.

Angka PBV 2,58 kali tersebut dinilai relatif lebih rendah atau terdiskon jika dibandingkan dengan rata-rata historisnya. Hal ini mengindikasikan bahwa saham BBCA sedang diperdagangkan di bawah rata-rata valuasi normalnya.

Data pembanding menunjukkan bahwa rata-rata PBV BBCA dalam tiga tahun terakhir berada di kisaran 2,93 kali. Oleh karena itu, valuasi saat ini berada di bawah minus dua standar deviasi dari rata-rata historis tersebut.

Dilansir dari investor.id, investor asing tercatat membukukan net sell di saham Bank Central Asia mencapai Rp 463,67 miliar pada penutupan perdagangan hari itu.