JAKARTAHYPE.COM - Wacana mengenai strategi mitigasi dampak pembangunan terhadap lingkungan di Bali kembali mengemuka. Isu ini menjadi perhatian serius menyusul semakin menipisnya area terbuka hijau di beberapa wilayah pulau dewata.

Seorang akademisi dari Universitas Udayana (Unud) turut angkat bicara mengenai kondisi terkini tersebut. Ia secara spesifik menyoroti perlunya upaya penghijauan yang lebih masif dan terstruktur di Bali.

Terkait hal ini, Dosen Universitas Udayana (Unud), I Nyoman Sunarta, menyampaikan sebuah usulan konkret. Ia menyarankan agar pemerintah daerah dan masyarakat Bali mengambil pelajaran dari strategi penataan ruang hijau di Kota Yogyakarta.

Pengamat pariwisata tersebut menggarisbawahi bahwa ekspansi pembangunan yang tidak terkontrol telah membawa konsekuensi signifikan. Salah satu dampak yang paling terasa adalah peningkatan suhu udara di kawasan perkotaan padat seperti Denpasar.

"Saya menyoroti betapa berkurangnya lahan hijau di Bali," ujar I Nyoman Sunarta, menekankan urgensi tindakan korektif segera.

Ia menjelaskan lebih lanjut mengenai dampak negatif dari minimnya vegetasi di tengah beton. Pembangunan yang masif tanpa diimbangi penataan ruang terbuka hijau jelas memicu fenomena peningkatan suhu urban.

Oleh karena itu, solusi yang diusulkan adalah meniru praktik sukses Yogyakarta dalam hal penataan dan penghijauan taman kota. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kesejukan kembali bagi ruang publik Bali.

Sebagai contoh nyata, I Nyoman Sunarta merujuk pada kawasan ikonik Malioboro di Yogyakarta. Kawasan tersebut dikenal sangat nyaman karena ditanami pohon asam dalam jumlah banyak.

"Contohnya kawasan Malioboro di Yogyakarta yang banyak ditanami pohon asam sehingga menciptakan suasana kota yang lebih teduh dan nyaman," kata beliau merujuk pada efektivitas pohon asam sebagai peneduh.