JAKARTAHYPE.COM - Institute for Economics and Peace (IEP) baru-baru ini mengumumkan hasil pemeringkatan tahunan mereka mengenai situasi kedamaian di seluruh dunia. Rilis terbaru ini, yang dikenal sebagai Global Peace Index (GPI) 2026, menjadi sorotan utama dalam analisis stabilitas global saat ini.
Publik kini menanti-nanti mengenai posisi Indonesia dalam survei prestisius tersebut. Pertanyaan besar yang muncul adalah sejauh mana stabilitas domestik Indonesia tercermin dalam skor global tahun ini.
Indeks yang dirilis oleh IEP ini merupakan instrumen komprehensif yang mengukur tingkat kedamaian. Pengukuran ini mencakup 163 negara serta berbagai wilayah independen yang ada di planet ini.
Secara agregat, cakupan survei ini sangat luas, memastikan bahwa indeks tersebut merepresentasikan hampir seluruh populasi dunia, yakni sekitar 99,7 persen dari total penduduk global.
Sayangnya, gambaran kedamaian dunia secara umum menunjukkan tren yang kurang menggembirakan pada periode pemantauan ini. Terdapat penurunan signifikan dalam skor stabilitas di berbagai belahan dunia.
Data menunjukkan bahwa mayoritas negara mengalami kemunduran dalam aspek kedamaian, dengan 99 negara tercatat mengalami penurunan skor stabilitas mereka dibandingkan periode sebelumnya.
Salah satu faktor signifikan yang diduga berkontribusi pada meningkatnya ketidakstabilan global ini adalah peningkatan belanja militer. Fenomena ini terlihat jelas di beberapa kawasan utama dunia.
Lonjakan pengeluaran pertahanan negara-negara anggota NATO di kawasan Eropa menjadi salah satu pemicu gejolak yang teridentifikasi. Peningkatan ini dilaporkan mencapai angka 20 persen sepanjang tahun sebelumnya.
"Gejolak ini salah satunya dipicu oleh lonjakan pengeluaran pertahanan negara-negara anggota NATO di Eropa hingga 20 persen sepanjang tahun lalu," demikian informasi yang dapat dilihat dari situs resmi IEP. Dilansir dari situs resmi IEP.