JAKARTAHYPE.COM - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tren pelemahan signifikan sepanjang tahun berjalan ini, yang turut menekan saham-saham perbankan unggulan. Tekanan jual ini bahkan mendorong harga saham Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mencapai titik terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Kondisi ini dipicu oleh aksi jual yang gencar dilakukan oleh investor asing sepanjang tahun ini, yang menambah beban koreksi pada pasar saham domestik secara keseluruhan. Penurunan tajam ini menjadi perhatian utama para pelaku pasar modal di Indonesia.

Pada penutupan perdagangan hari Kamis, 4 Juni 2026, IHSG secara resmi ditutup melemah cukup dalam. Indeks tercatat turun sebanyak 101,28 poin atau setara dengan 1,70 persen, berakhir di level 5.839,78.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa mayoritas saham mengalami tekanan jual pada hari tersebut. Sebanyak 623 saham tercatat menutup perdagangan dengan penurunan harga, sementara hanya 106 saham yang mampu menguat dan 85 lainnya bertahan stagnan.

Sementara itu, aktivitas transaksi di bursa masih cukup likuid dengan nilai total transaksi mencapai Rp 25,33 triliun. Volume perdagangan tercatat sebanyak 39,31 miliar lembar saham yang berpindah tangan melalui 2,29 juta kali frekuensi transaksi.

Kapitalisasi pasar BEI pada akhir perdagangan hari itu berada di angka Rp 10.284,95 triliun, mencerminkan valuasi pasar secara keseluruhan. Pelemahan ini mempengaruhi saham perbankan dengan kapitalisasi pasar terbesar, termasuk BBCA dan BBRI.

Meskipun terjadi koreksi yang dalam pada saham-saham unggulan tersebut, beberapa analis pasar modal justru melihat situasi ini sebagai sebuah peluang strategis. Mereka menyarankan investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap.

Dilansir dari KOMPAS.com, para analis berpendapat bahwa penurunan harga yang signifikan pada saham-saham fundamental kuat tersebut dapat menjadi momentum yang tepat bagi investor jangka panjang. Mereka menyarankan pendekatan akumulasi bertahap untuk memanfaatkan potensi pemulihan di masa mendatang.

"Sejumlah analis justru menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap," demikian dikutip dari KOMPAS.com, merujuk pada pandangan para pengamat pasar modal terkait koreksi BBCA dan BBRI.