JAKARTAHYPE.COM - Sebuah video yang menampilkan seorang pria sedang menyiapkan dagangan cilok keliling menggunakan sepeda motor telah menarik perhatian luas di media sosial. Aksi pria muda ini menjadi viral bukan hanya karena profesinya, tetapi juga karena latar belakang lokasi tempat ia memulai aktivitasnya.
Yang membuat warganet terperangah adalah latar belakang rumah bertingkat dengan pilar-pilar besar yang tampak sangat mewah, kontras dengan kesederhanaan gerobak cilok yang ia siapkan. Kejadian ini memicu perbincangan hangat mengenai persepsi masyarakat terhadap pekerjaan dan status sosial.
Pria pemilik akun Instagram @danil.a.a ini secara tegas menyuarakan prinsip hidupnya melalui keterangan video tersebut. Ia menyampaikan pesan yang cukup menohok mengenai pandangan terhadap rasa malu atau gengsi dalam bekerja.
"Justru saya kasihan ke yang gengsian," tulisnya dalam keterangan video yang diunggahnya, menantang pandangan umum bahwa bekerja sebagai pedagang kecil adalah sesuatu yang memalukan.
Saat dihubungi oleh Wolipop, pria yang membagikan konten tersebut mengklarifikasi bahwa rekaman video diambil di dua lokasi, yakni di rumahnya dan saat ia sedang mangkal di SPBU Tlogosari, Semarang, Jawa Tengah. Ia menegaskan bahwa konten tersebut dibuat dengan niat murni untuk memotivasi.
"Tujuan saya bikin konten jualan cilok untuk mengajak dan memotivasi anak muda untuk tidak gengsi dan malas-malasan untuk bekerja, apapun itu pekerjaannya," ungkapnya saat diwawancarai oleh Wolipop. Ia menambahkan pesan utama yang ingin disampaikannya adalah, "Nggak apa-apa terlihat kasihan, yang penting nggak gengsian," ujarnya.
Pria yang telah berjualan cilok sejak tahun 2025 ini menjelaskan bahwa ide membuka usaha kecil ini muncul dari keinginannya untuk memiliki bisnis mandiri. Ia berharap usaha ciloknya bisa terus berkembang dan bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain di masa depan.
Mengenai latar belakang rumah megah yang menjadi sorotan, ia memberikan klarifikasi bahwa hunian tersebut merupakan hasil usaha mertuanya. "Rumah saya itu dibuatkan oleh mertua. Saya tinggal di rumah itu bertiga dengan anak dan istri, mertua punya banyak sawah, punya gudang padi dan tembakau," jelasnya.
Meskipun tinggal di rumah yang difasilitasi oleh keluarga besar sang istri, ia memegang teguh prinsip kemandirian dan tidak ingin bergantung sepenuhnya pada fasilitas tersebut. "Prinsip saya: 'Jangan berharap apapun kepada siapapun'. Jadi walaupun kamu anak orang kaya atau menantu orang kaya, kamu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri," tegasnya.