JAKARTA, JakartaHype.com – Dalam menghadapi lanskap bisnis yang semakin kompleks pada semester kedua tahun 2026, Grab Indonesia menyelenggarakan Grab Business Forum 2026 dengan tema “The Next Chapter: Scale Smarter, Execute Faster”. Acara ini menjadi wadah bagi para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, dan ekonom untuk membahas strategi menavigasi tantangan pertumbuhan yang menuntut kecerdasan dan kedisiplinan dalam eksekusi.

Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi energi, tekanan rantai pasok, percepatan integrasi teknologi, serta perilaku konsumen yang selektif, mengharuskan perusahaan bertumbuh secara lebih cerdas. Diskusi forum ini relevan mengingat data menunjukkan bahwa meskipun 47% pemimpin bisnis di Asia Tenggara menjadikan inovasi sebagai penggerak pertumbuhan, 56% CFO memprioritaskan optimalisasi biaya pada tahun 2026.

Kompleksitas adopsi teknologi juga terlihat, di mana 91% organisasi berencana meningkatkan investasi AI, namun hanya 25% yang melaporkan ROI yang sesuai harapan. Beban administratif yang repetitif dinilai masih menjadi penghambat utama produktivitas dan kecepatan eksekusi.

Pada tahun ketujuh penyelenggaraannya, forum ini menghadirkan perspektif dari tokoh penting nasional. M. Chatib Basri, ekonom senior dan mantan Menteri Keuangan RI (2013-2014), menyoroti dinamika ekonomi global.

"Pertumbuhan ke depan akan semakin ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, mengalokasikan sumber daya secara lebih presisi, serta membangun ketahanan yang memungkinkan bisnis tetap adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan momentum pertumbuhan," ujar Chatib dalam sesi keynote.

Sementara itu, Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam adopsi teknologi.

"Perusahaan perlu memilah dengan jelas tantangan apa yang perlu diselesaikan dengan AI dan mana yang tidak, menentukan waktu adopsi yang tepat, serta menyiapkan talenta yang mampu menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab. Yang tak kalah penting, setiap adopsi AI perlu tetap menjaga humans in the loop dalam prosesnya," tutur Stella.

Neneng Goenadi, Chief Executive Officer Grab Indonesia, menyatakan bahwa ruang untuk tumbuh dengan cara lama semakin terbatas. "Pertumbuhan ke depan menuntut kemampuan untuk scale smarter melalui penetapan prioritas yang lebih tepat dan alokasi sumber daya yang lebih presisi, sekaligus execute faster dengan memanfaatkan teknologi dan AI untuk meningkatkan produktivitas," kata Neneng.

Roy Nugroho, Director of Commercial Grab Indonesia, menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah menerjemahkan strategi menjadi eksekusi operasional yang berdampak. Ia memperkenalkan Grab For Business (GFB) sebagai solusi B2B yang membantu perusahaan mengelola kebutuhan operasional harian—mulai dari transportasi karyawan, perjalanan bisnis, hingga pengantaran—secara lebih terstruktur.