JAKARTAHYPE.COM - Pada hari Selasa, 7 Juli 2026, lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan dua emiten baru, PT Niramas Utama Tbk dengan kode saham JELI dan PT Nitrasanata Dharma Tbk dengan kode saham JECX. Peristiwa ini menandai langkah penting kedua perusahaan dalam mengakses pasar modal domestik.

Saham JELI, yang merupakan emiten kedua yang melantai di BEI pada tahun 2026, langsung menunjukkan performa impresif dengan mencapai batas atas penolakan harga atau auto rejection atas (ARA) pada perdagangan perdananya. Hal ini terjadi setelah perusahaan mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed mencapai 273,37 kali pada porsi pooling dengan partisipasi dari 630.491 pemesan.

JELI bergerak di sektor produsen makanan dan minuman, lebih dikenal dengan merek dagang Inaco, dan pada pencatatan perdananya, harga sahamnya melonjak 25 persen atau setara 225 poin, ditutup di level Rp 1.125 per saham. Perseroan menawarkan sebanyak 266.000.000 saham baru, mewakili 21,01 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan harga penawaran ditetapkan pada Rp 900 per saham.

Melalui penawaran perdana ini, PT Niramas Utama Tbk berhasil menghimpun dana sebesar Rp 239,4 miliar sebelum dipotong biaya emisi. Direktur PT Niramas Utama Tbk, Yusuf Hamdani, menyoroti potensi besar pasar makanan dan minuman di Indonesia.

"Potensi industri makanan dan minuman juga tercermin dari pertumbuhan yang jauh di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu mencapai 7,04% dari kuartal I tahun 2026. Pertama, perusahaan kami didirikan pada tahun 1990 dengan skala usaha yang sangat kecil dan menghasilkan produk nata de coco dengan menggunakan brand Inaco," ucap Yusuf Hamdani di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (7/7).

Dana hasil IPO tersebut akan dialokasikan secara strategis, di mana 56,70 persen akan disuntikkan sebagai modal kepada anak usaha, PT NPS, guna belanja modal untuk peningkatan kapasitas produksi gummy candy dan produk jelly. Sisanya akan digunakan untuk belanja modal mesin baru, efisiensi logistik, pembayaran utang jangka pendek, serta modal kerja operasional.

Sementara itu, emiten ketiga yang melantai di BEI pada hari yang sama, JECX, juga menunjukkan sambutan positif dari pasar dengan mencatat oversubscribed sebesar 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat, melibatkan 555.699 investor. JECX merupakan perusahaan yang bergerak di bidang aktivitas rumah sakit swasta dan klinik swasta melalui jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics.

Pada penawaran perdananya, saham JECX melesat 24,8 persen atau 310 poin, mencapai harga Rp 1.560 per saham, setelah menawarkan 487.983.500 saham biasa dengan harga penawaran Rp 1.250 per saham. Total dana yang dihimpun JECX mencapai sekitar Rp 609,98 miliar, yang berasal dari saham baru dan divestasi saham milik salah satu pemegang saham lama.

Presiden Direktur JECX, Johan A. M. M. Hutauruk, menyatakan bahwa IPO ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan guna mendukung ekspansi bisnis perseroan di sektor kesehatan mata.