JAKARTAHYPE.COM - Sebuah kawasan bersejarah penting di Yogyakarta, yakni destinasi heritage Between Two Gates (BTG) yang berlokasi di Kotagede, terpaksa mengambil langkah penutupan sementara. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap perilaku yang dianggap tidak etis dari sekelompok wisatawan yang datang berkunjung dalam jumlah besar.

Penutupan sementara ini berlangsung selama dua hari penuh sebagai upaya untuk memulihkan ketertiban dan menjaga kelestarian situs. Pihak pengelola menyatakan bahwa insiden yang memicu penutupan ini memerlukan evaluasi mendalam terkait manajemen kunjungan di masa mendatang.

Pengelola BTG, Joko Nugroho, mengonfirmasi bahwa penutupan resmi tersebut mulai berlaku pada hari Minggu pagi, tepatnya tanggal 31 Mei. Penutupan ini dilakukan untuk mengatasi dampak langsung dari kedatangan rombongan wisatawan yang tidak terkoordinasi sebelumnya.

Insiden utama yang menjadi pemicu penutupan terjadi pada pukul 07.00 pagi di hari yang sama. Pada waktu tersebut, sebuah rombongan wisatawan asing yang berjumlah besar tiba di lokasi BTG tanpa memberikan pemberitahuan atau koordinasi apapun kepada pihak pengelola.

"Penutupan dilakukan pada Minggu (31/5) pagi," jelas Joko Nugroho, menegaskan waktu dimulainya pembatasan akses di destinasi tersebut. Hal ini menunjukkan betapa mendesaknya situasi yang dihadapi pengelola saat rombongan besar tersebut tiba.

Lebih lanjut, Joko Nugroho memaparkan kronologi kejadian yang menyebabkan penutupan sementara tersebut. "Alasannya, di hari itu tepatnya jam 07.00 pagi, rombongan wisatawan asing sebanyak dua bus datang ke BTG tanpa pemberitahuan," kata beliau.

Pihak pengelola merasa perlu mengambil tindakan tegas mengingat kedatangan dua bus penuh wisatawan asing tanpa koordinasi dapat mengganggu integritas kawasan cagar budaya. Situasi ini menunjukkan adanya pelanggaran terhadap prosedur kunjungan yang berlaku di area heritage tersebut.

Dampak dari "ulah barbar" rombongan wisatawan asing tersebut memaksa pengelola untuk menutup kawasan BTG. Penutupan dua hari ini diharapkan dapat menjadi pelajaran penting bagi wisatawan mengenai pentingnya menghormati aturan dan menjaga etika saat mengunjungi situs bersejarah.

Dikutip dari sumber terkait, manajemen tempat wisata tersebut berupaya memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang kembali di masa mendatang melalui peninjauan ulang protokol kunjungan.